METODE INFERENSI

METODE INFERENSI

Tree (Pohon) dan Graph

-     Tree (pohon) adalah suatu hierarki struktur yang terdiri dari Node (simpul/veteks) yang menyimpan informasi atau pengetahuan dan cabang (link/edge) yang menghubungkan node.

-     Binary tree mempunyai 0,1 atau 2 cabang per-node.
o  Node tertinggi disebut root
o  Node terendah disebut daun

-     Tree merupakan tipe khusus dari jaringan semantic, yang setiap nodenya kecuali akar, mempunyai satu node orang tua dan mempunyai nol atau lebih node anak.

-     Tree adalah kasus khusus dalam Graph

-     Graph dapat mempunyai nol atau lebih link di antara node dan tidak ada perbedaan antara orangtua dan anak.
-     Dalam graph, link dapat ditunjukkan berupa panah atau arah yang memadukan node dan bobot yang merupakan karakteristik beberapa aspek dari link.

-     Beberapa contoh graph sederhana:
                       
-     Graph asiklik adalah graph yang tidak mengandung siklus.
-     Graph dengan link berarah disebut digraph.
-     Graph asiklik berarah disebut lattice.
-     Tree yang hanya dengan path tunggal dari akar untuk satu daun disebut degenerate tree.

-     Aplikasi tree dan lattice adalah pembuatan keputusan disebut decision tree dan decision lattice.

-     Contoh : decision tree yang menunjukkan pengetahuan tentang hewan.


-     Aturan produksi (IF…THEN…) dari contoh di atas :
JIKA pertanyaan=”Apakah dia bertubuh besar ?”
DAN jawaban=”Tidak”
MAKA pertanyaan=”Apakah dia mencicit?”

JIKA pertanyaan=”Apakah dia bertubuh besar ?”
DAN jawaban=”Ya”
MAKA pertanyaan=”Apakah dia mempunyai leher panjang?”
dst……


Pohon AND-OR dan Tujuan

-     Banyak tipe system pakar menggunakan backward chaining untuk mendapatkan solusi dari permasalahan.

-     Salah satu tipe dari tree atau lattice yang digunakan dalam masalah representasi backward chaining adalah Pohon AND-OR.
-    

Contoh :

Penalaran Deduktif dan Silogisme
-     Tipe-tipe Inferensi

 

Deduction

Ø Pemberian alasan logikal dimana kesimpulan harus mengikuti premis

Induction

Ø Inferensi dari khusus ke umum

Intuition

Ø Tidak ada teori yg menjamin. Jawabannya hanya muncul, mungkin dengan penentuan pola yg ada secara tidak disadari.

Heuristic

Ø Aturan yg didasarkan pada pengalaman

Generate & Test

Ø Trial dan error. Digunakan dgn perencanaan.

Abduction

Ø Pemberian alasan kembali dari kesimpulan yg benar ke premis .

Default

Ø Diasumsikan pengetahuan umum sebagai default

Autoepistemic

Ø Self-knowledge

Nonmonotonic

Ø Pengetahuan yg sebelumnya mungkin tdk benar jika bukti baru didapatkan

Analogy

Ø Kesimpulan yg berdasarkan pada persamaan untuk situasi yg lainnya.

-     Suatu logika argument adalah kumpulan dari pernyataan-pernyataan yang dinyatakan untuk dibenarkan sebagai dasar dari rantai penalaran.
-     Salah satu jenis logika argunen adalah Silogisme.
-     Contoh :
Premis     : Siapapun yang dapat membuat program
                 adalah pintar
Premis     : John dapat membuat program
Konklusi   : Oleh karenanya John adalah pintar

Proses deduktif pada contoh di atas bergerak dari prinsip umum menuju konklusi khusus.

-     Penalaran deduktif umumnya terdiri dari tiga bagian : premis mayor, premis minor dan konklusi.

-     Premis disebut juga antecedent
-     Konklusi/kesimpulan disebut juga consequent

-     Silogisme dapat direpresentasikan ke dalam bentuk aturan JIKA…..MAKA….. (IF…THEN…..), contoh :
JIKA siapapun yang dapat membuat program adalah pintar
        DAN John dapat membuat program
MAKA John adalah pintar

-     Silogisme klasik disebut categoricall syllogism (silogisme yang pasti)
-     Premis dan konklusi didefinisikan sebagai statement yang pasti dari empat bentuk berikut :
Bentuk
Skema
Arti
A
Semua S adalah P
Universal Afirmative
E
Tidak S adalah P
Universal Negative
I
Beberapa S adalah P
Particular Afirmative
O
Beberapa S bukan P
ParticularNegative

-     Subjek dari konklusi S disebut bagian minor bila predikat konklusi P adalah bagian mayor.
-     Premis terdiri dari premis mayor dan premis minor.
-     Contoh :
Premis mayor : Semua M adalah P
Premis minor : Semua S adalah M
Konklusi       : Semua S adalah P
Silogisme di atas adalah bentuk standar karena premis mayor dan minor sudah diketahui.
Contoh :
      “Semua mikrokomputer adalah computer”
Subjeknya (objek yang digambarkan) adalah mikrokomputer.
Predikatnya (beberapa sifat subjek) adalah computer

-     M (middle term) adalah hal yang penting karena silogisme didefinisikan sedemikian sehingga konklusi tidak dapat disimpulkan dengan mengambil salah satu premis.

-     Q (quantifier) menggambarkan porsi dari kelas yang diketahui.
o  Quantifier “semua” dan “tidak” adalah universal karean menunjukkan keseluruhan kelas.
o  “beberapa” adalah khusus (particular) karena hanya menunjukkan satu bagian dari kelas yang diketahui.

-     Mood dari silogisme didefinisikan sebagai tiga huruf yang memberikan bentuk masing-masing premis mayor, minor dan konklusi.
Contoh :
            Semua M adalah P
            Semua S adalah M
            \Semua S adalah P
menunjukkan suatu mood AAA-1

-     Ada 4 kemungkinan pola susunan istilah S, P dan M :

Figure 1
Figure 2
Figure 3
Figure 4
Premis Mayor
MP
PM
MP
PM
Premis Minor
SM
SM
MS
MS
-     Tidak selalu argument yang mempunyai bentuk silogisme merupakan silogisme yang valid.
-     Contoh : Silogisme tidak valid berbentuk AEE-1
Semua M adalah P
      Tidak  S adalah M
      \Tidak S adalah P

Semua mikrokomputer adalah computer
Bukan mainframe adalah mikrokomputer
\Bukan mainframe adalah computer

-     Diperlukan prosedur keputusan (decision procedure) untuk pembuktian validitas.
-     Prosedur keputusan untuk silogisme dapat dilakukan menggunakan diagram venn tiga lingkaran yang saling berpotongan yang merepresentasikan S,P, M.

-     Contoh : Prosedur Keputusan untuk AEE-1
Semua M adalah P
      Tidak  S adalah M
      \Tidak S adalah P



-     Contoh : Prosedur Keputusan untuk EAE-1
Tidak M adalah P
      Semua S adalah M
      \Tidak S adalah P
    
Kaidah dari Inferensi

-     Diagram Venn tidak sesuai untuk argumen yang lebih kompleks karena sulit dibaca pada decision tree untuk silogisme.
-     Logika proposisi memberikan pengertian lain dari penggambaran argumen.
-     Contoh :
Jika ada daya listrik, komputer akan bekerja
Ada daya
\ Komputer akan bekerja

A = ada daya listrik
B = komputer akan bekerja

Sehingga dapat ditulis :
      AàB
      A
      \ B

-     Bentuk umum Ponens / direct reasoning / law of detachment / assuming the antecedent
pàq
p                atau   pàq,   p;    \ q
\ q

Bentuk tersebut valid, karena argumen tersebut dapat ditunjukkan sebagai suatu tautologi.
            ((pàq)Ùp) àq

Tabel Kebenaran Ponens :
p
q
pàq
((pàq)Ùp)
((pàq)Ùp) àq
T
T
T
T
T
T
F
F
F
T
F
T
T
F
T
F
F
T
F
T

-     Terdapat argumen yang menyerupai ponens namun perlu dibuktikan validitasnya.

Contoh :
Jika tidak kesalahan maka program dapat mengkompile
Program dapat mengkompile
\ Tidak ada kesalahan
pàq
q                atau   pàq,   q;    \ p
\ p
Tabel Kebenaran:
p
q
pàq
((pàq)Ùq)
((pàq)Ùq) àp
T
T
T
T
T
T
F
F
F
T
F
T
T
T
F
F
F
T
F
T
(Bukan Pones karena tidak bersifat Tautology)

-     Skema argumen lain :
pàq
~q             
\ ~p
Tabel Kebenaran:
p
q
pàq
~q
(pàq)Ù~q)
~p
((pàq)Ù~q) à~p
T
T
T
F
F
F
T
T
F
F
T
F
F
T
F
T
T
F
F
T
T
F
F
T
T
T
T
T

Argumen di atas disebut Tollens / indirect reasoning / law of contraposition.

-     Beberapa huum Inferensi
Hukum Inferensi
Skema
1. Hukum Detasemen
pàq
p    
\q        
2. Hukum Kontrapositif
pàq
\~q à~p      
3. Hukum Modus Tollens
pàq
~q                
\ ~p
4. Aturan Rantai
    (hukum silogisme)
pàq
qàr
\ pàr   
5. Hukum Inferensi Disjungsi
pÚq           pÚq
~p             ~q
\ q           \ p
6. Hukum negasi
~(~p)
\ p
7. Hukum de Morgan
~(pÙq)        ~(pÚq)
\~pÚ~q     \~pÙq
8. Hukum Simplifikasi
pÙq               pÙq
\p                \q
9. Hukum Konjungsi
p
q
\pÙq
10. Hukum Penambahan
     Disjungtif

p
\pÚq
11. Hukum Argumen
      Konjugtif
~(pÙq)           ~(pÙq)
p                    q
~q                 ~p

-     Kaidah inferensi dapat digunakan untuk argumen yang mempunyai lebih dari dua premis.
Contoh :
Harga chip naik hanya jika yen naik
Yen naik hanya jika dollar turun dan
      jika dollar turun maka yen naik
Karena harga chip telah naik
\Dollar harus turun

Misal :   C = harga chip naik
              Y = Yen naik
              D = Dollar turun
            1.    C àY
2.    (Y àD)Ù( D àY)
3.    C
\D

-     Kondisional p àq mempunyai converse, inverse dan kontrapositif
Kondisional
p àq
Converse
q à p
Inverse
~p à~q
Kontrapositif
~q à ~p
Jika p àq dan q à p bernilai benar, maka keduanya adalah ekuivalen.
p àqÙ q à p ekuivalen dengan p«q atau pºq.

sehingga argumen untuk contoh di atas, menjadi :
1.    C àY
2.    (Y àD)Ù( D àY)
3.    C                                       /\D
4.    YºD                                    2 ekuivalen
5.    C àD                                 1 substitusi
6.    D                                       3,5 modus ponens





METODE INFERENSI (2)

KETERBATASAN LOGIKA PROPOSISI

-     Perhatikan contoh berikut :
All men are mortal
Socrates is a man
Therefore, Socrates is mortal

Misal :     p = All men are mortal
              q = Socrates is a man
r = Socrates is mortal
      
       Skema argumennya menjadi :   p, q; \ r
              p
              q
              \ r

Bila dibuat tabel kebenaran, hasilnya invalid.

-     Argumen invalid sering diinterpretasikan sebagai konklusi yang salah (walaupun beberapa orang berpendapat argumen itu dapat saja bernilai benar).

-     Argumen yang invalid berarti argumen tersebut tidak dapat dibuktikan dengan logika proposisi.

-     Keterbatasan logika proposisi dapat diatasi melalui logika predikat sehingga argumen tersebut menjadi valid.

-     Kenyataannya, semua logika silogistik adalah subset yang valid dari logika proposisi urutan pertama.


-     Contoh :
If Socrates is a man, then Socrates is mortal
Socrates is a man
Therefore, Socrates is mortal

Misal:      p = Socrates is a man
              q = Socrates is mortal

Argumennya menjadi :
              p à q
              p
              q

Argumen di atas adalah silogistik yang valid, yaitu bentuk modus ponens.


LOGIKA PREDIKAT URUTAN PERTAMA
(First Order Predicate Logic)

-     Representasi 4 kategori silogisme menggunakan logika predikat

Bentuk
Skema
Representasi Predikat
A
Semua S adalah P
("x) (S(x)àP(x))
E
Tidak S adalah P
("x) (S(x)à~P(x))
I
Beberapa S adalah P
($x) (S(x)àP(x))
O
Beberapa S bukan P
($x) (S(x)à~P(x))

-     Kaidah Universal Instatiation merupakan state dasar, dimana suatu individual dapat digantikan (disubsitusi) ke dalam sifat universal.


-     Contoh :
Misal, f merupakan fungsi proposisi :
                 ("x) f(x)
 \ f(a)

merupakan bentuk yang valid, dimana a menunjukkan spesifik individual, sedangkan x adalah suatu variabel yang berada dalam jangkauan semua individu (universal)

Contoh lain :       ("x) H(x)
      \ H(Socrates)

-      Berikut ini adalah contoh pembuktian formal silogisme:
All men are mortal
Socrates is a man
Therefore, Socrates is mortal

Misal : H = man,  M = mortal,  s = Socrates

1.   ("x) (H (x) à M(x))
2.   H(s)                                /  \ M(s)
3.   H(s) à M(s)                     1 Universal Instatiation
4.   M(s)                                2,3 Modus Ponens



SISTEM LOGIKA

-     Sistem logika adalah kumpulan objek seperti kaidah (rule), aksioma, statement dan lainnya yang diatur dalam cara yang konsisten.

-     Sistem logika mempunyai beberapa tujuan :
1.  Menentukan bentuk argumen.
Awalnya argumen logika tidak memiliki arti dalam semantic sense, bentuk yang valid pada dasarnya dapat dicapai jika validitas dari argumen tersebut dapat ditentukan.
Fungsi terpenting dari logika sistem adalah menentukan well formed formulas (wffs) dari argumen yang digunakan.
Contoh :             All S is P        ….. merupakan wffs
            tapi….    All
                         All is S P       ….. bukan wffs
                         Is S all

2.  Menunjukkan kaidah inferensi yang valid.

3.  Mengembangkan dirinya sendiri dengan menemukan kaidah baru inferensi dan memperluas jangkauan argumen yang dapat dibuktikan.

-     Sistem logika dibangun melalui Sentential atau kalkulus proposisi, kalkulus predikat dst.

-     Setiap sistem disandarkan pada aksioma atau postulat, yang merupakan definisi mendasar dari sistem.
Suatu aksioma merupakan fakta sederhana atau assertion yang tidak dapat dibuktikan dalam sistem. Terkadang, kita menerima aksioma dikarenakan ada sesuatu yang menarik atau melalui pengamatan.

-     Sistem formal membutuhkan :
1.          simbol alfabet.
2.          suatu set finite string dari simbol tertentu, wffs
3.          aksioma, definisi dari sistem
4.          kaidah inferensi, yang memungkinkan wffs, A untuk dikurangi sebagai kesimpulan dari set finite G wff lain dimana G = {A1,A2,…An}. Wffs harus berupa aksioma atau teori lain dari sistem logis. Sebagai contoh : sistem logika dapat didefinisikan menggunakan modus pones untuk diturunkan menjadi teorema baru.

- Jika terdapat argumen :
         A1, A2, ……., AN; \ A

yang valid, maka A disebut teorema dari sistem logika formal dan ditulis dengan simbol    (metasymbol) yang menunjukkan wff adalah suatu teorema .
A1, A2, ……., AN       A

Contoh : teorema silogisme tentang Socrates yang
             ditulis dalam bentuk logika predikat.
("x) (H (x)àM(x)),   H(s)       M(s)

M(s) dapat dibuktikan dari aksioma di sisi kiri, hal tersebut menunjukkan aksioma

-     Suatu teorema merupakan tautology, ditunjukkan melalui G sebagai set null dimana wff selalu bernilai null dan tidak tergantung dari aksioma atau teorema yang lain.
Teorema dengan tautology ditulis dengan simbol    , misalnya   A.
Contoh :
         Jika A º p Ú ~p maka     p Ú ~p

-     Suatu model adalah interpretasi wff bernilai benar.
Suatu wff disebut konsisten atau satifiable jika interpretasi yang dihasilkan benar, dan disebut inkonsisten atau unsatisfiable jika wff menghasilkan nilai yang salah pada semua interpretasi.
RESOLUSI

-     Diperkenalkan oleh Robinson (1965).
-     Resolusi merupakan kaidah inferensi utama dalam bahasa PROLOG.
-     PROLOG menggunakan notasi “quantifier-free”.
-     PROLOG didasarakan pada logika predikat urutan pertama.

-     Sebelum resolusi diaplikasikan, wff harus berada dalam bentuk normal atau standard.
Tiga tipe utama bentuk normal : conjunctive normal form, clausal form dan subset Horn clause.
-     Resolusi diaplikasikan ke dalam bentuk normal wff dengan menghubungkan seluruh elemen dan quantifier yang dieliminasi.
-     Contoh :
(A Ú B) Ù (~B ÚC)   ………… conjunctive normal form
Dimana  A Ú B  dan  ~B ÚC  adalah clause.

Logika proposional dapat ditulis dalam bentuk clause.
Full clause form yang mengekspresikan formula logika predikat dapat ditulis dalam Kowalski clause form.
          A1, A2, ……., Aà  B1, B2, ……., B

      Clause yang ditulis dalam notasi standard :
A1Ù A2, ……., Aà  B1 Ú B2, ……., B

Bentuk disjungsinya merupakan disjungsi dari literal menggunakan equivalence :
       p à q   º   ~p Ú q

      sehingga
A1Ù A2, ……., Aà  B1 Ú B2, ……., B
                           º ~( A1Ù A2, …, AN) Ú (B1 Ú B2, …., BM) 
                           º ~A1Ú ~A2, …, ~AN Ú B1 Ú B2, …., B

Yang merupakan hukum de Morgan :
       ~(p Ù q)   º   ~p Ú ~q

Dengan Horn clause dapat ditulis :
A1, A2, ……., Aà  B

      Dalam bahasa PROLOG ditulis :
              B :- A1, A2, ……., A

Untuk membuktikan teorema di atas benar, digunakan metode klasik reductio ad absurdum atau metode kontradiksi.
Tujuan dasar resolusi adalah membuat infer klausa baru yang disebut “revolvent” dari dua klausa lain yang disebut parent clause.
Contoh :
      A Ú B
       A Ú ~B
       \ A

Premis dapat ditulis :   (A Ú B) Ù (A Ú ~B)

Ingat Aksioma Distribusi :
       p Ú (q Ù r) º (p Ú q) Ù (p Ú q)

Sehingga premis di atas dapat ditulis :
(A Ú B) Ù (A Ú ~B) º A Ú (B Ù ~B) º A
 dimana B Ù ~B selalu bernilai salah.


Tabel Klausa dan Resolvent
Parent Clause
Resolvent
Arti
p à q   , p atau
~p Ú q, p
q
Modus Pones
p à q , q à r   atau
~p Ú q, ~ q Ú r
p à r atau
~p Ú r
Chaining atau Silogisme Hipotesis
~p Ú q, p Ú q
q
Penggabungan
~p Ú ~q,  p Ú q
~p Ú p atau
~q Ú q
TRUE (tautology)
~p, p
Nill
FALSE (kontradiksi)



SISTEM RESOLUSI DAN DEDUKSI

-     Refutation adalah pembuktian teorema dengan menunjukkan negasi atau pembuktian kontradiksi melalui reductio ad absurdum.
-     Melakukan refute berarti membuktikan kesalahan.
-     Contoh :
A à B
B à C
C à D
\A à D

Untuk membuktikan konklusi A à D  adalah suatu teorema melalui resolusi refutation, hal yang dilakukan :
              p à q    º    ~p Ú q
       sehingga 
              Aà D    º    ~A Ú D
dan langkah terakhir adalah melakukan negasi
          ~(~A Ú D) º     A Ù ~D

Penggunaan konjungsi dari disjunctive form pada premis dan negasi pada konsklusi, memberikan conjuctive normal form yang cocok untuk resolusi refutation.
Dari contoh di atas, penulisannya menjadi :
(~A Ú B) Ù (~B Ú C) Ù (~C Ú D) Ù A Ù ~D
                              
Akar bernilai nill, menunjukkan kontradiksi. Sehingga melalui refutation dapat ditunjukkan konklusi asli (awal) adalah teorema dengan peran kontradiksi.


SHALLOW (DANGKAL) PENALARAN CAUSAL

-     Sistem pakar menggunakan rantai inferensi, dimana rantai yang panjang merepresentasikan lebih banyak causal atau pengetahuan yang mendalam. Sedangkan penalaran shallow umumnya menggunakan kaidah tunggal atau inferensi yang sedikit.

-     Kualitas inferensi juga faktor utama dalam penentuan kedalaman dan pendangkalan dari penalaran.

-     Shallow knowledge disebut juga experiment knowledge.
-     Contoh : Penalaran shallow
IF a car has
       a good battery
       good sparkplugs            conditional elements
       gas
       good tires
THEN the car can move

-     Pada penalaran shallow, tidak ada atau hanya terdapat sedikit pemahaman dari subjek, dikarenakan tidak ada atau hanya terdapat sedikit rantai inferensi.

-     Keuntungan dari penalaran shallow adalah kemudahan dalam pemograman, yang berarti waktu pengembangan program menjadi singkat, program menjadi lebih kecil, lebih cepat dan biaya pengembangan menjadi murah.

-     Penalaran causal disebut juga penalaran mendalam (deep reasoning), karena pemahaman yang mendalam diperoleh dari pemahaman rantai causal kejadian yang terjadi, atau dengan kata lain kita dapat memahami proses dari suatu abstrak yang disajikan.

-     Frame dan jaringan semantik adalah contoh model yang menggunakan penalaran causal.

-     Contoh :
IF the battery is good
THEN there is electricity

IF there is electricity
       and the sparkplugs are good
THEN the sparkplugs will fire

IF the sparkplugs fire
       and there is gas
THEN the engine will run

IF  the engine runs
       and there are is gas
THEN the engine will run

IF the engine runs
       and there are good tires
THEN the car will move

-     Penalaran causal cocok digunakan untuk operasi yang berubah-ubah dari sistem yang dibatasi oleh kecepatan eksekusi, memori dan peningkatan biaya pengembangan.

-     Penalaran causal dapat digunakann untuk membangun model sistem nyata, seperti model yang dipakai untuk simulasi penggalian hipotesa penalaran pada tipe query “what if”.

-     Contoh : Dalam mengobati pasien, dokter dihadapkan pada jangkauan yang lebar dalam melakukan tes diagnosa untuk memverifikasi kejadian/penyakit secara cepat dan tepat.

-     Karena kebutuhan akan penalaran causal meningkat, diperlukan kombinasi dengan kaidah penalaran satu shallow.

-     Metode resolusi dengan refutation dapat digunakan untuk membuktikan apakah kaidah tunggal konklusi bernilai benar dari banyak kaidah (multiple rule).

-     Contoh :
B=battery is good                 C= car will move
E=there is electricity              F=sparkplugs will fire
G=there is gas              R=engine will run
S=sparkplugs are good   T=there are good tires

(1)       B Ù S Ù G Ù T à C
(2)       B à E
(3)       E Ù S à F
(4)       F Ù G à R
(5)       R Ù T à C

Langkah pertama di atas diaplikasikan pada resolusi refutation dengan menegasikan konklusi atau kaidah tujuan.

(1’) ~( B Ù S Ù G Ù T à C) = ~[~( B Ù S Ù G Ù T) Ú C]

Selanjutnya, setiap kaidah yang lain diekspresikan dalam disjunctive form menggunakan equivalesi seperti :
       p à q º ~p Ú q    dan    ~(p Ù q) º ~p Ú ~q

sehingga versi baru dari (2)-(5) menjadi :
(2’) ~B Ú E
(3’) ~(E Ù S) Ú F     =  ~E Ú ~S Ú F
(4’) ~(F ÙG) Ú R     =  ~F Ú ~G Ú R
(5’) ~(R Ù T) Ú C     =  ~R Ú ~T Ú C








Pohon Resolusi Refutation-nya :
Akar bernilai nill, menunjukkan kontradiksi. Sehingga melalui refutation dapat ditunjukkan konklusi asli (awal) :
          B Ù S Ù G Ù T à C
adalah teorema dengan peran kontradiksi.


FORWARD CHAINING DAN BACKWARD CHAINING

-     Chain (rantai) : perkalian inferensi yang menghubung-kan suatu permasalahan dengan solusinya.

-     Forward chaining :
ü  Suatu rantai yang dicari atau dilewati/dilintasi dari suatu permasalahn untuk memperoleh solusi.
ü  Penalaran dari fakta menuju konklusi yang terdapat dari fakta.

-     Backward chaining :
ü Suatu rantai yang dilintasi dari suatu hipotesa kembali ke fakta yang mendukung hipotesa tersebut.
ü Tujuan yang dapat dipenuhi dengan pemenuhan sub tujuannya.

-     Contoh rantai inferensi :
gajah(x) à mamalia (x)
mamalia(x) à binatang(x)

·       Causal (sebab-akibat) Forward chain

gajah(clyde)


gajah(x)                mamalia(x)

                                  mamalia(x)            binatang(x)

binatang(clyde)
·       Explicit Causal chain

gajah(clyde)

unifikasi
implikasi         gajah(clyde)                  mamalia(clyde)
unifikasi
implikasi                                       mamalia(clyde)

-         Karakteristik Forward dan Backward chaining
Forward chaining
Backward chaining
Perencanaan, monitoring, kontrol
Diagnosis
Disajkan untuk masa depan
Disajikan untuk masa lalu
Antecedent ke konsekuen
Konsekuen ke antecedent
Data memandu, penalaran dari bawah ke atas
Tujuan memandu, penalaran dari atas ke bawah
Bekerja ke depan untuk mendapatkan solusi apa yang mengikuti fakta
Bekerja ke belakang untuk mendapatkan fakta yang mendukung hipotesis
Breadth first search dimudahkan
Depth first search dimudahkan
Antecedent menentukan pencarian
Konsekuen menentukan pencarian
Penjelasan tidak difasilitasi
Penjelasan difasilitasi

ü  Forward Chaining                                  


ü  Backward Chaining

                 
METODE LAIN DARI INFERENSI

ANALOGI
-        Mencoba dan menghubungkan situasi lama sebagai penuntun ke situasi baru.
-        Contoh : diagnosis medical (gejala penyakit yang diderita oleh seorang pasien ternyata sama dengan gejala yang dialami pasien lain).

-        Pemberian alasan analogis berhubungan dgn induksi. Bila induksi membuat inferensi dari spesifik ke umum pada situasi yang sama, maka analogy membuat inferensi dari situasi yang tidak sama.


GENERATE AND TEST
-        Pembuatan solusi kemudian pengetesan untuk melihat apakah solusi yg diajukan memenuhi semua persyaratan. Jika solusi memenuhi maka berhenti yg lain membuat sollusi yg baru kemudian test lagi dst.

-        Contoh : Dendral, prog AM ( artificial Mathematician), Mycin


ABDUCTION/PENGAMBILAN
-        Metodenya mirip dengan modus ponens
             Abduction             Modus ponens
            p à q                  p à q

q                         p
            \ p                    \ q

-        Bukan argument deduksi yang valid
-        Berguna untuk kaidah inferensi heuristik

-        Analogi,generate and test, abduction adalah metode bukan deduksi. Dari premise yg benar, metode ini tidak dapat membuktikan kesimpulan yg benar

Perbedaan  Forward Chaining,
 Backward Chaining dan Abduction

Inference

Start
Tujuan
FORWARD


BACKWARD


ABDUCTION
Fakta


Kesimpulan tdk pasti


Kesimpulan benar
Kesimpulan yang harus mengikuti

Fakta pendukung kesimpulan

Fakta yang dapat mengikuti


NONMONOTONIC REASONING
-        Adanya tambahan aksioma baru pada sistem logika berarti akan banyak teorema yang dapat dibuktikan.
-        Peningkatan teorema dengan peningkatan aksioma dikenal dengan sistem monotonik

-        Suatu masalah dapat terjadi, jika diperkenalkan aksioma parsial atau komplit baru yang kontradikasi dengan aksioma sebelumnya.
-        Pada sistem nonmonotonik, tidak perlu adanya peningkatan teorema yang sejalan dengan peningkatan aksioma.




METODE INFERENSI (3)
(Tambahan untuk sub materi RESOLUSI)

RESOLUSI LOGIKA PROPOSISI

-      Dalam proposisi, resolusi merupakan aturan untuk melakukan inferensi yang dapat berjalan secara efisien dalam suatu bentuk khusus, yaitu conjunctive normal form  (CNF)

-      Bentuk CNF memiliki ciri-ciri :
·         Setiap kalimat merupakan disjungsi literal
·         Semua kalimat terkonjungsi secara implisit.

-      Untuk mengubah suatu kalimat ke dalam bentuk CNF, dapat digunakan langkah-langkah sebagai berikut :
·         Hilangkan implikasi dan euivalensi
o   x à y menjadi ~x Ú y
o   x « y menjadi (~x Ú y) Ù (~y Ú x)
·         Kurangi lingkup semua negasi menjadi satu negasi saja
o   ~(~x)     menjadi x
o   ~( x Ú y) menjadi (~x Ù ~y)
o   ~( x Ù y) menjadi (~x Ú ~y)
·         Gunakan aturan asosiatif dan distributif untuk mengkonversi menjadi conjuction of disjunction.
o   Assosiatif : (A Ú B) Ú C     =  A Ú (B Ú C)
o   Distributif : (A Ù B) Ú C    =   (A Ú C) Ù (B ÚC)
·         Buatu satu kalimat terpisah untuk tiap-tiap konjungsi.

-      Pada logika proposisi, prosedur untuk membuktikan proposisi P dengan beberapa aksioma F yang telah diketahui, dengan menggunakan resolusi, dapat dilakukan melalui algoritma sebagai berikut :
1.    Konversikan semua proposisi F ke bentuk CNF
2.    Negasikan P, dan konversikan hasil negasi tersebut ke bentuk klausa. Tambahkan ke himpunan klausa yang telah ada pada langkah 1.
3.    Kerjakan hingga terjadi kontradiksi atau proses tidak mengalami kemajuan :
(a)  Seleksi 2 klausa sebagai klausa parent.
(b)  Bandingkan (resolve) secara bersama-sama. Klausa hasil resolve tersebut dinamakan resolvent. Jika ada pasangan literal L dan ~L, eliminir dari resolvent.
(c)  Jika resolvent berupa klausa kosong, maka ditemukan kontradiksi. Jika tidak, tambahkan ke himpunan klausa yang telah ada.
-      Contoh : Diketahui basis pengetahuan sebgai berikut :
1.    P
2.    (P Ù Q) à R
3.    (S Ú T) à Q
4.    T
    Buktikan kebenaran R !

Apabila kita ingin membuktikan kebenaran R dengan menggunakan resolusi, maka pertama-tama kita harus ubah dulu keempat fakta di atas menjadi bentuk CNF. Konversi ke CNF dapat dilakukan sebagai berikut :

Kalimat
Langkah-langkah
CNF
1. P
Sudah merupakan bentuk CNF
P
2. (P Ù Q) à R
- Menghilangkan implikasi
~(P Ù Q) Ú R  
- Mengurangi lingkup negasi
(~P Ú ~Q) Ú R
- Gunakan assosiatif
~P Ú ~Q Ú R
~P Ú ~Q Ú R
3. (S Ú T) à Q
- Menghilangkan implikasi
~(S Ú T) Ú Q  
- Mengurangi lingkup negasi
(~S Ù ~T) Ú Q
- Gunakan distributif
(~S Ú Q) Ù (~T Ú Q)
(~S Ú Q)
(~T Ú Q)
4. T
Sudah merupakan bentuk CNF
T

Kemudian kita tambahkan kontradiksi pada tujuannya, R menjadi ~ R, sehingga fakta-fakta (dalam bentuk CNF) dapat disusun menjadi :
1.    P
2.    ~P Ú ~Q Ú R
3.    (~S Ú Q)
4.    (~T Ú Q)
5.    T
6.    ~R
Dengan demikian resolusi dapat dilakukan untuk membuktikan R, sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini.
Text Box:






                        





-      Contoh diatas apabila diterapkan dalam kalimat :
·         P : Andi anak yang cerdas.
·         Q : Andri rajin belajar.
·         R : Andi akan menajdi juara kelas
·         S : Andi makannya banyak
·         T : Andi istrirahatnya cukup

Kalimat yang terbentuk :
·         Andi anak yang cerdas
·         Jika Andi anak yang  cerdas dan Andi rajin belajar, maka Andi akan menjadi juara kelas
·         Jika Andi makannya banyak atau Andi istirahatnya cukup, maka Andi rajin belajar
·         Andi istirahatnya cukup

Setelah dilakukan konversi ke bentuk CNF, didapat :
·         Fakta ke-2 :  Andi tidak cerdas atau Andi tidak rajin belajar atau
Andi akan menjadi juara kelas.
·         Fakta ke-3 :  Andi tidak makan banyak atau Andi rajin belajar
·         Fakta ke-4 :  Andi tidak cukup istirahat atau Andi rajin belajar.

Pohon aplikasi resolusi untuk kejadian di atas adalah :

         
RESOLUSI LOGIKA PREDIKAT

-      Resolusi predikat merupakan suatu teknik pembuktian yang lebih efisien sebab fakta-fakta yang akan dioperasikan terlebih dahulu dibawa ke bentuk standar yang sering disebut dengan nama klausa.

-      Pembuktian suatu pernyataan menggunakan resolusi ini dilakukan dengan cara menegasikan pernyataan-pernyataan tersebut, kemudian dicari kontradiksinya dari pernyataan-pernyataan yang sudah ada.

-      Algoritma  konversi ke bentuk klausa :
1.    Eliminir a à b menjadi ~a Ú b
2.    Reduksi skope dari ~ sebagai berikut :
     ~(~a Ú b)   º ~a Ù ~b
     ~(~a Ù b)   º ~a Ú ~b
     ~"x : P(x)  º $x:~P(x)
     ~$x : P(x)   º "x:~P(x)
3.    Standarisasi variabel sehingga semua qualifier (" dan $) terletak pada satu variabel yang unik.
"x : P(x)  Ú  "x : Q(x)   menjadi
"x : P(x)  Ú  "y : Q(y)
4.    Pindahkan semua qualifier ke depan tanpa mengubah urutan relatifnya.
5.    Eliminasi qualifier “$
"x : $y : P(y,x) menjadi
"x : P(S(x),x)
6.    Buang semua prefiks qualifier “"
7.    Ubah menjadi conjuction of disjunction
 (a Ù b) Ú c   º   (a Ú b) Ù (a Ú b)
8.    Bentuk klausa untuk tiap-tiap bagian konjungsi
9.    Standarisasi variabel di tiap klausa.

-      Resolusi pada logika predikat pada dasarnya sama dengan resolusi pada logika proposisi, hanya saja ditambahkan dengan unifikasi. Pada logika predikat, prosedur untuk membuktikan pernyataan P dengan beberapa pernyataan F yang telah diketahui, dengan menggunakan resolusi dapat dilakukan algoritma sebagai berikut :
1.    Konversikan semua proposisi F ke bentuk klausa
2.    Negasikan P dan konversikan hasil negasi tersebut ke bentuk klausa. Tambahkan ke himpunan klausa yang telah ada pada langkah 1.
3.    Kerjakan hingga terjadi kontradiksi atau proses tidak mengalami kemajuan :
(a)     Seleksi 2 klausa sebagai klausa parent.
(b)     Bandingkan (resolve) secara bersama-sama. Klausa hasil resolve tersebut dinamakan resolvent. Jika ada pasangan literal T1 dan ~T2 sedemikian sehingga keduanya dapat dilakukan unifikasi, maka salah satu T1 atau T2 tidak muncul lagi dalam resolvent. T1 dan T2 disebut sebagai complementary literal. Jika ada lebih dari 1 complementary literal, maka ahnya sepasang yang dapat meninggalkan resolvent.
(c)      Jika resolvent berupa klausa kosong, maka ditemukan kontradiksi. Jika tidak, tambahkan ke himpunan klausa yang telah ada.

-      Contoh : terdapat pernyataan-pernyataan sebagai berikut :
    1. Andi adalah seorang mahasiswa
    2. Andi masuk Jurusan Elektro
    3. Setiap mahasiswa elektro pasti mahasiswa teknik
    4. Kalkulus adalah matakuliah yang sulit
    5. Setiap mahasiswa teknik pasti akan suka kalkulus atau akan membencinya
    6. Setiap mahasiswa pasti akan suka terhadap suatu matakuliah
    7. Mahasiswa yang tidak pernah hadir pada kuliah matakuliah sulit, maka mereka pasti tidak suka terhadap matakuliah tersebut.
    8. Andi tidak pernah hadir kuliah matakuliah kalkulus.

Kedelapan pernyataan di atas dapat dibawa ke bentuk logika predikat :
1.    mahasiswa(Andi)
2.    Elektro(Andi)
3.    "x: Elektro(x) à Teknik(x)
4.    sulit(Kalkulus)
5.    "x: Teknik(x) à suka(x, Kalkulus) Ú benci(x, Kalkulus)
6.    "x:$y : suka(x,y)
7.    "x: "y: mahasiswa(x) Ù sulit(y) Ù ~hadir(x,y) à ~suka(x,y)
8.    ~hadir(Andi, Kalkulus)

Kemudian dibuat dalam bentuk klausa :
1.    mahasiswa(Andi)
2.    Elektro(Andi)
3.    ~Elektro(x1) Ú Teknik(x1)
4.    sulit(Kalkulus)
5.    ~Teknik(x2) Ú suka(x2, Kalkulus) Ú benci(x2, Kalkulus)
6.    suka(x3,f1(x3))
7.    ~mahasiswa(x4) Ú ~sulit(y1) Ú hadir(x4,y1) Ú ~suka(x4,y1)
8.    ~hadir(Andi,Kalkulus)

Akan dibuktikan apakah “Andi benci kalkulus” atau dapat ditulis :
                      benci(Andi,Kalkulus)

Pohon resolusi pada logika predikat untuk contoh di atas adalah :




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wireless Distribution System (WDS)

Algoritma Genetika

Al Qasas 77